“Komandan Rekia anda harus lari sekarang juga..” kata seorang
berbaju zirah yang sudah terlanjur pedang menancap di dadanya. “Bagaimana
mungkin aku meninggalkan begitu saja seluruh pasukan yg selama ini telah
mengabdi kepada Detrous” sahut salah seorang yg disebut komandan itu. “Ingatlah
komandan..bagaimanapun juga anda harus kembali dengan selamat untuk mengatakan
kebenaran kepada dunia luar tentang kelicikan Zentar”. Terlihat kembali semacam
sinar berwarna kuning terang seperti matahari dilangit malam itu. Dan
terulanglah kembali dalam cahaya tersebut keluar cahaya cahaya lain yg lebih
kecil dan berterbangan untuk mencuri jiwa seluruh pasukan berlukiskan Naga
merah pada baju zirahnya.
“Kau
harus pergi sekarang komandan, kalau hanya untuk memimpin sisa pasukan dalam
waktu singkat ini aku masih sanggup, kami akan alihkan perhatian mereka, sementara
itu kau harus berlari”. Kemudian dia bergegas bangun dengan pedang masih menancap
di dadanya dan segera berlari kedepan sambil meneriakan kata kata pembakar
semangat untuk para pasukan yang tersisa. Komandan itu pun sejenak terdiam
sambil melihat wakilnya itu pergi semakin menjauh kedepan dengan tombak yang
diseretnya dengan genggaman tangan kanannya.
Total
1500 pasukan saat peperangan dimulai dan tinggal menyisakan 250 pasukan ketika
ditinggalkan komandannya tersebut. Hanya membutuhkan waktu 5 menit saja
untuk cahaya tersebut membunuh seluruh pasukan yang tersisa. Dengan nafas terengah
engah dan sisa tenaga yg ia dapatkan dr pertempuran td, Rekia berlari . Ia
berlari menjauh kearah Timur menuju Morq. Adalah Morq tersebut kota paling
Barat Dari kerajaan Detrous. “MUSTAHIL…secepat ini? “ katanya sambil menoleh
kebelakang. Terlihat sinar tersebut mulai mengejarnya seolah seperti memiliki
jiwa sendiri.
Tak
sedikit dari sinar sinar tersebut menabrak pepohonan yang banyak tumbuh diarea itu
dan langsung membakarnya. “Aku sudah terlanjur sampai sini, dan tak akan
kubiarkan pengorbanan 1500 prajuritku terbuang sia sia, aku harus berhasil
memberikan informasi ini kepada Chev di Vihara” gumamnya sambil sesekali
melihat keatas. Rekia terus berlari sambil sesekali harus menghindari amukan
sinar-sinar pembunuh yang terus mengejarnya, seperti ia berlari dibawah Matahari
tengah malam.
Ketika
hanya berjarak beberapa mil lagi dari gerbang Barat kota Morq cahaya itu tiba
tiba berhenti dan menghilang begitu saja. Sehingga kegelapan pun menyeruak, ya…kegelapan
yang sebenarnya diinginkan Rekia sejak tadi. Memang terkadang hal hal yg sering
dipandang orang sebagai sesuatu yg buruk tidak selamanya buruk. Kemudian Rekia
pun melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki, disamping sudah tidak ada
lagi pengejar yang haus nyawa dibelakangnya, ia juga mendapat banyak luka
akibat pertempuran semalam. Saat itu kegelapan tersebut sudah tidak layak lagi
dipanggil malam karena jauh disisi Timur sana sudah terlihat samar samar cahaya
yg menyelinap ditepi langit itu. “Ohh sudah pagi rupanya” kata Rekia disusul
dengan rebahnya tubuh ketanah didepan gerbang kota Morq. “Ya aku sudah sampai…
pengorbanan kalian tak sia-sia “ ucapnya lirih ditengah udara basah akibat
embun dipagi hari itu.
Dan_22 Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar