Minggu, 22 Januari 2012

Part 1 : Berlari Dibawah Matahari Tengah Malam

“Komandan Rekia anda harus lari sekarang juga..” kata seorang berbaju zirah yang sudah terlanjur pedang menancap di dadanya. “Bagaimana mungkin aku meninggalkan begitu saja seluruh pasukan yg selama ini telah mengabdi kepada Detrous” sahut salah seorang yg disebut komandan itu. “Ingatlah komandan..bagaimanapun juga anda harus kembali dengan selamat untuk mengatakan kebenaran kepada dunia luar tentang kelicikan Zentar”. Terlihat kembali semacam sinar berwarna kuning terang seperti matahari dilangit malam itu. Dan terulanglah kembali dalam cahaya tersebut keluar cahaya cahaya lain yg lebih kecil dan berterbangan untuk mencuri jiwa seluruh pasukan berlukiskan Naga merah pada baju zirahnya. 

“Kau harus pergi sekarang komandan, kalau hanya untuk memimpin sisa pasukan dalam waktu singkat ini aku masih sanggup, kami akan alihkan perhatian mereka, sementara itu kau harus berlari”. Kemudian dia bergegas bangun dengan pedang masih menancap di dadanya dan segera berlari kedepan sambil meneriakan kata kata pembakar semangat untuk para pasukan yang tersisa. Komandan itu pun sejenak terdiam sambil melihat wakilnya itu pergi semakin menjauh kedepan dengan tombak yang diseretnya dengan genggaman tangan kanannya.
Total 1500 pasukan saat peperangan dimulai dan tinggal menyisakan 250 pasukan ketika ditinggalkan komandannya tersebut. Hanya membutuhkan waktu 5 menit saja untuk cahaya tersebut membunuh seluruh pasukan yang tersisa. Dengan nafas terengah engah dan sisa tenaga yg ia dapatkan dr pertempuran td, Rekia berlari . Ia berlari menjauh kearah Timur menuju Morq. Adalah Morq tersebut kota paling Barat Dari kerajaan Detrous. “MUSTAHIL…secepat ini? “ katanya sambil menoleh kebelakang. Terlihat sinar tersebut mulai mengejarnya seolah seperti memiliki jiwa sendiri.
Tak sedikit dari sinar sinar tersebut menabrak pepohonan yang banyak tumbuh diarea itu dan langsung membakarnya. “Aku sudah terlanjur sampai sini, dan tak akan kubiarkan pengorbanan 1500 prajuritku terbuang sia sia, aku harus berhasil memberikan informasi ini kepada Chev di Vihara” gumamnya sambil sesekali melihat keatas. Rekia terus berlari sambil sesekali harus menghindari amukan sinar-sinar pembunuh yang terus mengejarnya, seperti ia berlari dibawah Matahari tengah malam.
Ketika hanya berjarak beberapa mil lagi dari gerbang Barat kota Morq cahaya itu tiba tiba berhenti dan menghilang begitu saja. Sehingga kegelapan pun menyeruak, ya…kegelapan yang sebenarnya diinginkan Rekia sejak tadi. Memang terkadang hal hal yg sering dipandang orang sebagai sesuatu yg buruk tidak selamanya buruk. Kemudian Rekia pun melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki, disamping sudah tidak ada lagi pengejar yang haus nyawa dibelakangnya, ia juga mendapat banyak luka akibat pertempuran semalam. Saat itu kegelapan tersebut sudah tidak layak lagi dipanggil malam karena jauh disisi Timur sana sudah terlihat samar samar cahaya yg menyelinap ditepi langit itu. “Ohh sudah pagi rupanya” kata Rekia disusul dengan rebahnya tubuh ketanah didepan gerbang kota Morq. “Ya aku sudah sampai… pengorbanan kalian tak sia-sia “ ucapnya lirih ditengah udara basah akibat embun dipagi hari itu. 


Dan_22 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar