3 hari berselang semenjak hancurnya
kota Debarn. Kekacauan pun melanda Vihara. Seorang Chev sebuah kerajaan besar
dapat diculik secara diam-diam, itu membuat banyak pemikiran muncul, betapa
hebatnya orang yang mampu menculik Chev Shira dengan tanpa menimbulkan
keributan sedikitpun. “Sepertinya kekacauan ini terus berkembang seiring dengan
semakin banyaknya opini public yang muncul” ucap Landga. “ Ya mau bagaimana
lagi, kita juga tak menyangka akan terjadi hal semacam ini. Ohh yaa..wakil Chev
telah merencanakan misi membawa kembali Chev ke Detrous dalam keadaan hidup
atau….” . kata Rekia, yang kalimatnya tak mampu dilanjutkan oleh semua orang
yang ada disana.
Saat itu terdapat 8 komandan sedang
berkumpul, dan selama 3 jam pertemuan itu kebanyakan dari mereka menghabiskan
waktunya dengan diam, hingga tiba saatnya Rekia mulai beranjak dari tempatnya,
lalu bergegas pergi, namun sebelum ia pergi ia berkata kepada Landga, “Ambilah
hadiahmu dari Sentiros diatas peristirahatannya yang terakhir, itu hal terakhir
yang ia inginkan sebelum ia wafat”. Keadaan yang hening saat itu berubah
menjadi semakin hening setelah kalimat dari Rekia itu terucap.
Sehari berselang setelah kejadian
itu, Seluruh komandan pasukan dan para petinggi kerajaan berkumpul di Aula
kehormatan untuk pemberian intruksi terkait misi yang berkode ‘de val nino’ . kode tersebut diambil dari nama daerah
terlarang yang terletak ditengah tengah kepulauan Azra. Tempat yang diyakini
sebagai tempat dimana semua Gees disegel oleh lima orang prajurit dari berbagai
kerajaan atau biasa disebut dengan Lenchester, dan Chev Shira salah satu dari kelima orang Lenchester.
“De Val Nino” kata wakil chev Aston
dengan sangat keras dari atas mimbar. “Kita semua tahu tempat seperti apa De
Val Nino itu, Chev kita salah satu dari Lenchester, salah satu penyegel Semua
Gees yang ada, dan saat ini tengah diculik oleh bangsa lain, bangsa pelanggar
sumpah, bangsa yang telah memporak-porandakan sisi Barat Daya dengan Ultimer dalam
pertempuran Westdoom, bangsa yang telah meluluhlantahkan kota Debarn, kota para
kesatria, dan bangsa yang telah mengendap-endap menuju istana yang kemudian
melakukan hal yang menjadi penyebab kita berada ditempat ini, saat ini juga.”
Ungkap wakil chev Aston dengan sangat emosional. “Aku sekarang berdiri diatas
mimbar ini bukan untuk mengguruin kalian tentang strategi terkait misi ini,
karena akupun tak lebih hebat dari pada kalian, namun sekarang aku berdiri
disini akan menunjukan tujuan dari misi ini…......BAWA KEMBALI CHEV SHIRA ATAU
BUNUH DIA DISANA ! “, Sontak suasana menjadi ricuh, para komandan keberatan
dengan opsi yang diberikan oleh wakil Chev Aston. Mendengar itu Rekia yang kini
menjabat sebagai komandan pasukan batalyon ke-4 menggantikan Lisa yang tewas
pada pertempuran Debarn ikut berbicara, “Bagaimana mungkin kami diberi opsi
seperti itu? “ kata Rekia. “Kau tau arti dari Lenchester kan? dan kau pasti juga sudah mengerti apa
akibatnya jika sampai pemegang segel berada dipihak musuh.” Kata Aston dengan
nada tinggi. “Jadi kau kira Chev Shira akan berkhianat?? Wakil macam apa kau
ini? Aku yakin akan satu hal, Chev Shira adalah seorang yang memegang teguh
prisipnya, ia tak akan goyah sedikitpun meski nyawa sebagai taruhannya.” Ungkap
Rekia. “Disini akulah pemimpinnya sementara Chev tidak ada, lagipula rasanya
tidak pantas orang sepertimu berkata seperti itu kepadaku sementara semua orang
masih mengingat jelas dengan apa yang terjadi di pertempuran Westdoom ?!” balas
Aston keras. “Baiklah kalau itu maumu..kami akan membawanya hidup-hidup atau
kami tidak kembali sama sekali, kecuali sebagai mayat yang diangkut oleh pasukan
kemanusiaan non-blok” . tutur Rekia.
Setelah pertemuan tersebut, Rekia
dan Landga membawa seluruh pasukan nya menuju kota Fallen, kota yang terletak
di pesisir Barat ini dikenal sebagai kota pelabuhan yang terkenal seantero Azra
sebagai basis kekuatan maritim terbesar diantara keempat kerajaan lainnya. “Sebenarnya
aku tidak yakin dengan langkah yang kita ambil ini Rekia !” ucap Landga
gelisah. “yah…peluang suksesnya misi ini bisa dibilang mendekati nol, karena
kita tidak tahu dimana mereka menyembunyikan Chev, dan yang paling aku
khawatirkan adalah setibanya kita disana, kita tak tahu harus mencari kemana
dan hanya terkatung katung sembari melayani pertempuran yang akan membawa kita
kepada kematian. “ ungkap Rekia.
Setibanya disana Rekia dan Landga
langsung menuju pelabuhan lalu menyiapkan 6 buah kapal perang dan bergegas
berangkat menuju sisi selatan kerajaan Zentar. Sementara itu Batalyon ke-6 yang
dipimpin oleh Xaver, batalyon ke-1 dipimpin oleh Vega dan batalyon ke-2
dipimpin oleh Abel ‘selangkah’ dibelakang Rekia dan Landga, sementara batalyon
sisanya berjaga dibasis kota pertahanan Detrous yang tersebar diseluruh pesisir
pulau.
Hari menjelang malam, suasana pun
semakin tenang, hanya tedengar debur riuh air yang menghantam diberbagai sisi
kapal. “Aku merasakan ada sesuatu yang aneh diperairan ini, ini terlalu sepi,
terlalu tenang, sepertinya ada yang tidak beres ditempat ini ! Berikan Suar “
ucap rekia kepada prajuritnya. Kemudian rekia menyalakan suar tersebut untuk memberi
sinyal kepada kapal Landga agar segera merapat. “Setelah merapat segera ikat
kedua kapal utama dan untuk kapal yang lain perintahkan untuk membentuk
barikade pertahanan “ ucap Landga kepada seorang awak kapal.
“Ada apa Rekia? Apa yang terjadi” kata Landga. “Apakah kau tidak merasakan
sesuatu yang aneh?” kata Rekia. “Ha..apa? tidak ada yang aneh sejak tadi” ucap
Landga. Setelah itu suasana berubah menjadi mencekap, terlihat beberapa kali
bayangan besar dari dalam air melintas
didekat kapal, dan tiba-tiba sesosok Naga air berkepala Lima muncul secara
tiba-tiba didepan mereka, dengan suara auman kelima kepala naga tersebut
suasana menjadi semakin tak terkendali, semua prajurit dan awak kapal panik. “
Mungkinkah ini?? Mustahil….tapi aku sangat yakin kalau itu adalah Hydra !” seru
Landga. “APA katamu Hydra? Salah satu Gees itu? Bagaimana bisa? Kenapa ada di
tempat ini? Semuanya jangan panik! ” teriak Rekia.
Naga air itu tepat berada didepan
mereka, berwarna hijau, berkepala lima, dimana tepat diatas kepala utama
berdiri seorang lelaki berjubah biru memegang sebuah tongkat yang bertahtakan
batu berwarna biru diatasnya. Semua orang takjub melihat sosok raksasa ada
didepan mereka, sementara mereka takjub melihatnya, sesuai perintah lelaki
berjubah itu salah satu mulut naga air
itu mulai mengeluarkan sebuah bola cahaya berwarna biru terang. “Blue Energy”
ucap lelaki berjubah itu yang dimulai dengan lepasnya energy dari mulut sang
naga. Sontak energy itu membelah tepat diantara kedua kapal utama yang diikat
oleh para pasukan. Barikade pun terpisah menjadi dua.
“Elemen Api, Fire blast” seru Rekia
sembari berlari menuju haluan kapal yang kemudian diikuti oleh beberapa
pasukan. Seakan tidak ada artinya, entah karena memang lupa bahwa itu naga air
atau karena memang sudah kalap dan hanya asal menyerang saja dengan elemen api,
dan tak ada yang peduli. “5 orang buat air disekeliling menjadi es, 10 orang menuju
atas tiang dan serang sebisa kalian,
sisanya ikuti aku” seru Landga. Landga dan pasukannya pun terjun ke lapisan es
yang telah dibuat, “Mari kita lihat seberapa kuat pedang Ziegler, dan setahuku
ini merupakan pedang berelemen petir, sepertinya cocok untuk melawan monster
ini, tapi entahlah” Kata Landga lirih. Kemudian Rekiapun menyusul Landga. “Rekia,
tidakkah kau bisa menggunakan elemen petir? Aku pernah melihat kau
menggunakannya ” kata Landga kepada Rekia. “ elemen petir adalah elemen
kombinasi api dan angin, berbagai kondisi diperlukan untuk melakukanya,
meskipun begitu aku juga belum lancar menggunakannya.” Keluh Rekia.
Pertempuran melawan Hydra pun
dimulai, dalam sebuah perjalanan, satu Gees, dua komandan, dua ribu pasukan,
ditengah laut, mengemban misi, diantara dua opsi, rintangan pertama, dan semuanya
bagian dari sebuah misi yang disebut ‘MISSION IMPOSSIBLE’.
Dan_14
Januari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar