Senin, 14 Januari 2013

Part 7: Mission Impossible



            3 hari berselang semenjak hancurnya kota Debarn. Kekacauan pun melanda Vihara. Seorang Chev sebuah kerajaan besar dapat diculik secara diam-diam, itu membuat banyak pemikiran muncul, betapa hebatnya orang yang mampu menculik Chev Shira dengan tanpa menimbulkan keributan sedikitpun. “Sepertinya kekacauan ini terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya opini public yang muncul” ucap Landga. “ Ya mau bagaimana lagi, kita juga tak menyangka akan terjadi hal semacam ini. Ohh yaa..wakil Chev telah merencanakan misi membawa kembali Chev ke Detrous dalam keadaan hidup atau….” . kata Rekia, yang kalimatnya tak mampu dilanjutkan oleh semua orang yang ada disana.

            Saat itu terdapat 8 komandan sedang berkumpul, dan selama 3 jam pertemuan itu kebanyakan dari mereka menghabiskan waktunya dengan diam, hingga tiba saatnya Rekia mulai beranjak dari tempatnya, lalu bergegas pergi, namun sebelum ia pergi ia berkata kepada Landga, “Ambilah hadiahmu dari Sentiros diatas peristirahatannya yang terakhir, itu hal terakhir yang ia inginkan sebelum ia wafat”. Keadaan yang hening saat itu berubah menjadi semakin hening setelah kalimat dari Rekia itu terucap.
            Sehari berselang setelah kejadian itu, Seluruh komandan pasukan dan para petinggi kerajaan berkumpul di Aula kehormatan untuk pemberian intruksi terkait misi yang berkode ‘de val nino’  . kode tersebut diambil dari nama daerah terlarang yang terletak ditengah tengah kepulauan Azra. Tempat yang diyakini sebagai tempat dimana semua Gees disegel oleh lima orang prajurit dari berbagai kerajaan atau biasa disebut dengan Lenchester, dan Chev  Shira salah satu dari kelima orang Lenchester.
            “De Val Nino” kata wakil chev Aston dengan sangat keras dari atas mimbar. “Kita semua tahu tempat seperti apa De Val Nino itu, Chev kita salah satu dari Lenchester, salah satu penyegel Semua Gees yang ada, dan saat ini tengah diculik oleh bangsa lain, bangsa pelanggar sumpah, bangsa yang telah memporak-porandakan sisi Barat Daya dengan Ultimer dalam pertempuran Westdoom, bangsa yang telah meluluhlantahkan kota Debarn, kota para kesatria, dan bangsa yang telah mengendap-endap menuju istana yang kemudian melakukan hal yang menjadi penyebab kita berada ditempat ini, saat ini juga.” Ungkap wakil chev Aston dengan sangat emosional. “Aku sekarang berdiri diatas mimbar ini bukan untuk mengguruin kalian tentang strategi terkait misi ini, karena akupun tak lebih hebat dari pada kalian, namun sekarang aku berdiri disini akan menunjukan tujuan dari misi ini…......BAWA KEMBALI CHEV SHIRA ATAU BUNUH DIA DISANA ! “, Sontak suasana menjadi ricuh, para komandan keberatan dengan opsi yang diberikan oleh wakil Chev Aston. Mendengar itu Rekia yang kini menjabat sebagai komandan pasukan batalyon ke-4 menggantikan Lisa yang tewas pada pertempuran Debarn ikut berbicara, “Bagaimana mungkin kami diberi opsi seperti itu? “ kata Rekia. “Kau tau arti dari Lenchester kan?  dan kau pasti juga sudah mengerti apa akibatnya jika sampai pemegang segel berada dipihak musuh.” Kata Aston dengan nada tinggi. “Jadi kau kira Chev Shira akan berkhianat?? Wakil macam apa kau ini? Aku yakin akan satu hal, Chev Shira adalah seorang yang memegang teguh prisipnya, ia tak akan goyah sedikitpun meski nyawa sebagai taruhannya.” Ungkap Rekia. “Disini akulah pemimpinnya sementara Chev tidak ada, lagipula rasanya tidak pantas orang sepertimu berkata seperti itu kepadaku sementara semua orang masih mengingat jelas dengan apa yang terjadi di pertempuran Westdoom ?!” balas Aston keras. “Baiklah kalau itu maumu..kami akan membawanya hidup-hidup atau kami tidak kembali sama sekali, kecuali sebagai mayat yang diangkut oleh pasukan kemanusiaan non-blok” . tutur Rekia.
            Setelah pertemuan tersebut, Rekia dan Landga membawa seluruh pasukan nya menuju kota Fallen, kota yang terletak di pesisir Barat ini dikenal sebagai kota pelabuhan yang terkenal seantero Azra sebagai basis kekuatan maritim terbesar diantara keempat kerajaan lainnya. “Sebenarnya aku tidak yakin dengan langkah yang kita ambil ini Rekia !” ucap Landga gelisah. “yah…peluang suksesnya misi ini bisa dibilang mendekati nol, karena kita tidak tahu dimana mereka menyembunyikan Chev, dan yang paling aku khawatirkan adalah setibanya kita disana, kita tak tahu harus mencari kemana dan hanya terkatung katung sembari melayani pertempuran yang akan membawa kita kepada kematian. “ ungkap Rekia.
            Setibanya disana Rekia dan Landga langsung menuju pelabuhan lalu menyiapkan 6 buah kapal perang dan bergegas berangkat menuju sisi selatan kerajaan Zentar. Sementara itu Batalyon ke-6 yang dipimpin oleh Xaver, batalyon ke-1 dipimpin oleh Vega dan batalyon ke-2 dipimpin oleh Abel ‘selangkah’ dibelakang Rekia dan Landga, sementara batalyon sisanya berjaga dibasis kota pertahanan Detrous yang tersebar diseluruh pesisir pulau.
            Hari menjelang malam, suasana pun semakin tenang, hanya tedengar debur riuh air yang menghantam diberbagai sisi kapal. “Aku merasakan ada sesuatu yang aneh diperairan ini, ini terlalu sepi, terlalu tenang, sepertinya ada yang tidak beres ditempat ini ! Berikan Suar “ ucap rekia kepada prajuritnya. Kemudian rekia menyalakan suar tersebut untuk memberi sinyal kepada kapal Landga agar segera merapat. “Setelah merapat segera ikat kedua kapal utama dan untuk kapal yang lain perintahkan untuk membentuk barikade pertahanan “ ucap Landga kepada seorang awak kapal.
            “Ada apa Rekia? Apa yang terjadi”  kata Landga. “Apakah kau tidak merasakan sesuatu yang aneh?” kata Rekia. “Ha..apa? tidak ada yang aneh sejak tadi” ucap Landga. Setelah itu suasana berubah menjadi mencekap, terlihat beberapa kali bayangan besar  dari dalam air melintas didekat kapal, dan tiba-tiba sesosok Naga air berkepala Lima muncul secara tiba-tiba didepan mereka, dengan suara auman kelima kepala naga tersebut suasana menjadi semakin tak terkendali, semua prajurit dan awak kapal panik. “ Mungkinkah ini?? Mustahil….tapi aku sangat yakin kalau itu adalah Hydra !” seru Landga. “APA katamu Hydra? Salah satu Gees itu? Bagaimana bisa? Kenapa ada di tempat ini? Semuanya jangan panik! ” teriak Rekia.
            Naga air itu tepat berada didepan mereka, berwarna hijau, berkepala lima, dimana tepat diatas kepala utama berdiri seorang lelaki berjubah biru memegang sebuah tongkat yang bertahtakan batu berwarna biru diatasnya. Semua orang takjub melihat sosok raksasa ada didepan mereka, sementara mereka takjub melihatnya, sesuai perintah lelaki berjubah itu salah satu mulut  naga air itu mulai mengeluarkan sebuah bola cahaya berwarna biru terang. “Blue Energy” ucap lelaki berjubah itu yang dimulai dengan lepasnya energy dari mulut sang naga. Sontak energy itu membelah tepat diantara kedua kapal utama yang diikat oleh para pasukan. Barikade pun terpisah menjadi dua.
illustration
            “Elemen Api, Fire blast” seru Rekia sembari berlari menuju haluan kapal yang kemudian diikuti oleh beberapa pasukan. Seakan tidak ada artinya, entah karena memang lupa bahwa itu naga air atau karena memang sudah kalap dan hanya asal menyerang saja dengan elemen api, dan tak ada yang peduli. “5 orang buat air disekeliling menjadi es, 10 orang menuju atas tiang  dan serang sebisa kalian, sisanya ikuti aku” seru Landga. Landga dan pasukannya pun terjun ke lapisan es yang telah dibuat, “Mari kita lihat seberapa kuat pedang Ziegler, dan setahuku ini merupakan pedang berelemen petir, sepertinya cocok untuk melawan monster ini, tapi entahlah” Kata Landga lirih. Kemudian Rekiapun menyusul Landga. “Rekia, tidakkah kau bisa menggunakan elemen petir? Aku pernah melihat kau menggunakannya ” kata Landga kepada Rekia. “ elemen petir adalah elemen kombinasi api dan angin, berbagai kondisi diperlukan untuk melakukanya, meskipun begitu aku juga belum lancar menggunakannya.” Keluh Rekia.
            Pertempuran melawan Hydra pun dimulai, dalam sebuah perjalanan, satu Gees, dua komandan, dua ribu pasukan, ditengah laut, mengemban misi, diantara dua opsi, rintangan pertama, dan semuanya bagian dari sebuah misi yang disebut ‘MISSION IMPOSSIBLE’.

Dan_14 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar