“Tuan
Sentiros bagaimana keadaanmu?, kulihat wajahmu semakin pucat saja “. “Satu hal yang
harus kau percaya dariku….Aku tak akan mati sebelum kukibarkan kembali bendera
Detrous dipuncak mercusuar Debarn”. Tak lama kemudian 3 Batalyon awal
reinforcement untuk Debarn tiba di Pos Penjaga Kaki gunung Tiray. “Mereka Telah
datang!!”. sahut salah seorang prajurit. “Baiklah Seluruh pasukan persiapkan
serang balik, kita akan serang langsung dari depan!” .Teriak Sentiros. “Tuan Sentiros, saya Vega komandan batalyon 1, dan mereka Abel
serta Lisa komandan batalyon 2 dan 4, kami ditugaskan untuk membantu
mempertahankan kota Debarn, sekarang kami berada dibawah perintah Tuan !”
Di
atas mercusuar Debarn para pemimpin penyerangan Zentar atas Debarn berkumpul. “Dari
tepi langit sebelah Selatan telah terlihat, Sentiros kembali bersama pasukannya
dengan jumlah 2-3 batalyon pasukan berkuda, kami menunggu perintah !” kata
seorang prajurit. “Ikuti bagaimana mereka menikmati peperangan ini ! Kunci
penyerangan mereka terletak pada Sentiros, lelaki tua itu sangat cerdas. Bunuh
dia terlebih dahulu! , tentunya tidak sulit untuk membunuhnya dengan 2 lubang
menganga di tubuh rentanya, dan untuk seluruh Komandan batalyon mereka biar
kami yang mengurusnya”. Sahut Morgan de Shen , salah Satu petinggi Zentar.
“INI
TANAH KITA, KOTA KITA, BAGIAN DARI DETROUS, TIDAKKAH KAU RELA BAGIAN DARI
DETROUS TANAH KELAHIRANMU DIREBUT OLEH PARA MAKHLUK ITU??? “ Terdengar teriakan
Sentiros dari atas kudanya membakar semangat pasukan yang dibalas dengan mantab
oleh seluruh prajurit sesaat sebelum mereka menghantam gerbang Selatan kota
Debarn. “UNTUK TANAH KITA, UNTUK KEHORMATAN KITA, USIR MEREKAAA !!!”. itulah
teriakan terakhir Sentiros dipeperangan tersebut yang segera berganti dengan suara
dentingan logam yang saling beradu. “Vega kau langsung menuju pelabuhan melalui
tebi Barat, Abel kau ke Gerbang Barat, kuasailah gerbang itu, Lisa kau ke pintu
Mercusuar Debarn, Pertahankan saja posisimu disana jika semua telah kalian
atasi kita bertemu di pintu mercusuar “, Kata Sentiros kepada para komandan.
“Baiklah
15 lawan satu ini bukan jumlah yang pantas untuk seorang yang sedang terluka
seperti aku”, celotehnya ditengah kepungan prajurit lawan. Setiap anak panah
yang datang kepadanya mampu ia hindari, setiap pedang dan belati yang hendak
menghantam tubuhnya mampu ia tepis dengan pedangnya, meskipun terluka ia tetap
piawai mengayunkan pedang kesayangannya itu, “satu…dua..tiga..empat, Down. Lima…enam
…,down, empat belas.., clear. Lima beee….” Sentiros terdiam sejenak melihat
sosok kelima belas yang akan ia serang, ia seperti sedang mengingat-ingat sosok
yang ia lihat. “oohhh…tentu saja kau..Corte ‘the Phantom of Opera’ hahhahhaha..tak
kusangka kau terlibat dalam peperangan ini…apa pangkatmu dalam peperangan ini? Prajurit
rendahan kah? Atau sebagai badut penghibur para prajurit? “ . “Kau masih sangat
membenciku rupanya Sentiros? Hahha tidak bijak rasanya jika harus saling
membenci ditepi kematianmu sendiri, namun baiklah memang dari dulu kita tidak
pernah akur jadi kita buktikan saja di pertarungan kali ini, dan untuk kali ini
aku akan pastikan kau mati ditanganku” katanya sambil mulai mengenakan sebuah
topeng .
Corte’the
phantom of opera’ ialah mantan murid Sentiros yang pernah mencoba membunuh
Sentiros demi jabatan pimpinan Feylong, kemudian dia pergi meninggalkan Detrous
sebagai prajurit pelarian dan bergabung dengan Militer Zentar. Ia dicap sebagai
prajurit penghianat. Pertarungan sengit terjadi diantara mereka berdua, belasan
jurus dan teknik saling berbalas diantara mereka berdua, pertarungan Guru dan
murid. Bangunan disekitar pertarungan mereka hancur satu persatu imbas dari
jurus-jurus yang mereka berdua gunakan. “Sudah kubilang spainlothmu tak berarti
apa apa terhadapku..aku telah mempelajari berbagai jurusmu” . “Sepertinya
memang begitu adanya, namun masih terlalu cepat bagimu untuk membunuhku saat
ini !” balas Sentiros.
“Landga
kita telah terlambat, kita harus lebih cepat..pos penjaga telah ditinggalkan
sejak 3 jam yang lalu” Kata Rekia. “Ya…kita harus cepat, semoga 200 prajurit
yang kita bawa dapat membantu mereka disana.,” . Cepat saja mereka mencapai gerbang
Selatan Debarn, disana telah sepi. Tidak ada satu pun prajurit disana..Namun
saat mereka lebih masuk kedalam suara ledakan dan dentingan logam yang beradu
pun mulai terdengar jelas. “Apakah lebih baik kita berpencar Landga? “. “Baiklah
kau pergi menuju Mercusuar, aku pergi menuju gerbang Barat, bawa serta 100
prajurit bersamamu” . Lalu mereka berpencar
disana.
“Corte..kau
telah mencapai titik batas kemampuanmu..hahahhaha” kata Sentiros. “Kau kira
dirimu tidak pada batas yang sama denganku? Ha? Ciihh….”, Balasnya. “Sama? Aku geli mendengarnya.hahhahaaa…ugh ugh
ugh “. Celoteh Sentiros disusul darah yang mengalir dimulut dan hidungnya “ . “Bahkan
jika kubiarkan saja mungkin kau akan mati dengan sendirinya….hahhaha sungguh
menyedihkan…namun mengingat kau adalah mantan guruku, aku akan meringankan
sedikit rasa sakitmu dengan membunuhmu, dengan begitu pula pedang Ziegler
menjadi miliku..hahhahhaha” ungkap Corte. “Rupanya kau masih terobsesi dengan
pedang Ziegler, kau sangat menginginkanya??........baiklah…. ambilah !” .
Sentiros menatap pedang itu, lalu melemparkannya kearah Corte seolah-olah akan
memberikannya dengan cuma-cuma. Melihat pedang
itu melayang kearahnya Corte terlihat ragu untuk menyongsongnya, namun karena
obsesinya terhadap pedang itu ia menjatuhkan pedangnya dan menangkap Ziegler dengan
tangan kanannya. “WARP” , terdengar suara itu keluar dari mulut Sentiros,
kemudian ia ‘menghilang’,namun bukan menghilang ia hanya berpindah tempat tepat
didepan Corte, lalu dengan cepat ia memegang Corte dengan kuat, meletakan
tangan kanannya didada Corte, sambil mengucap mantra, terdengar kecil kata
keluar dari mulutnya. “Elemen Api, IMPACT”.
Kemudian
ledakan dahsyat terjadi disana, tepat didada Corte, mereka berdua pun terpental
saling menjauh. Adapun ‘WARP’ adalah jurus tingkat tinggi pengendalian pedang
dimana penggunanya dapat dengan cepat menuju pedangnya selama pedang itu masih
ada dalam jarak penglihatannya.
Ledakan
yang terjadi telah memporak-porandakan tempat itu. Terlihat pedang Ziegler
terpelanting dan tertancap dijalanan kota Debarn. Terlihat pula Sentiros yang
menghantam dinding bangunan memegangi tangan kanannya yang patah akibat jurus
tingkat tinggi tersebut. Corte ‘the phantom of opera’ hanya terkapar dengan
lubang besar menganga didadanya diantara puing puing bangunan yang hancur, dan
semua kejadian itu disaksikan oleh Rekia. Ia terdiam sejenak dan tercengang
melihat jurus dan teknik tingkat tinggi yang diperagakan oleh Sentiros
tersebut. Kemudian ia lari dan menolong Sentiros yang telah terluka parah.Ia
melamun beberapa saat, hingga ketika kilauan cahaya matahari yang terpantulkan
oleh kilapnya Ziegler menyadarkan Rekia dari lamunannya.
“Saya
Rekia wakil komandan batalyon ke-3, siap memberikan bantuan, mulai saat ini
kami berada dibawah perintah tuan”, ucap Rekia. “Bantu aku berdiri nak ! dan
bawa aku ke Mercusuar itu, aku telah berjanji kepada komandan yang lain untuk
bertemu disana!” kata Sentiros. Kemudian ia perlahan mengambil Ziegler yang
tertancap dijalan dan berjalan menuju mercusuar melewati jasad Corte sang hantu
dalam opera. Rekia melihat jasad tersebut sambil berjalan dan menggumam dalam
hatinya. Ketenangan pun terjadi beberapa saat, hingga akhirnya mereka berlalu.
Dan_16
Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar