Selasa, 16 Oktober 2012

Part 5: Counter Attack

“Tuan Sentiros bagaimana keadaanmu?, kulihat wajahmu semakin pucat saja “. “Satu hal yang harus kau percaya dariku….Aku tak akan mati sebelum kukibarkan kembali bendera Detrous dipuncak mercusuar Debarn”. Tak lama kemudian 3 Batalyon awal reinforcement untuk Debarn tiba di Pos Penjaga Kaki gunung Tiray. “Mereka Telah datang!!”. sahut salah seorang prajurit. “Baiklah Seluruh pasukan persiapkan serang balik, kita akan serang langsung dari depan!” .Teriak Sentiros.  “Tuan Sentiros, saya  Vega komandan batalyon 1, dan mereka Abel serta Lisa komandan batalyon 2 dan 4, kami ditugaskan untuk membantu mempertahankan kota Debarn, sekarang kami berada dibawah perintah Tuan !”

Di atas mercusuar Debarn para pemimpin penyerangan Zentar atas Debarn berkumpul. “Dari tepi langit sebelah Selatan telah terlihat, Sentiros kembali bersama pasukannya dengan jumlah 2-3 batalyon pasukan berkuda, kami menunggu perintah !” kata seorang prajurit. “Ikuti bagaimana mereka menikmati peperangan ini ! Kunci penyerangan mereka terletak pada Sentiros, lelaki tua itu sangat cerdas. Bunuh dia terlebih dahulu! , tentunya tidak sulit untuk membunuhnya dengan 2 lubang menganga di tubuh rentanya, dan untuk seluruh Komandan batalyon mereka biar kami yang mengurusnya”. Sahut Morgan de Shen , salah Satu petinggi Zentar.
“INI TANAH KITA, KOTA KITA, BAGIAN DARI DETROUS, TIDAKKAH KAU RELA BAGIAN DARI DETROUS TANAH KELAHIRANMU DIREBUT OLEH PARA MAKHLUK ITU??? “ Terdengar teriakan Sentiros dari atas kudanya membakar semangat pasukan yang dibalas dengan mantab oleh seluruh prajurit sesaat sebelum mereka menghantam gerbang Selatan kota Debarn. “UNTUK TANAH KITA, UNTUK KEHORMATAN KITA, USIR MEREKAAA !!!”. itulah teriakan terakhir Sentiros dipeperangan tersebut yang segera berganti dengan suara dentingan logam yang saling beradu. “Vega kau langsung menuju pelabuhan melalui tebi Barat, Abel kau ke Gerbang Barat, kuasailah gerbang itu, Lisa kau ke pintu Mercusuar Debarn, Pertahankan saja posisimu disana jika semua telah kalian atasi kita bertemu di pintu mercusuar “, Kata Sentiros kepada para komandan.
“Baiklah 15 lawan satu ini bukan jumlah yang pantas untuk seorang yang sedang terluka seperti aku”, celotehnya ditengah kepungan prajurit lawan. Setiap anak panah yang datang kepadanya mampu ia hindari, setiap pedang dan belati yang hendak menghantam tubuhnya mampu ia tepis dengan pedangnya, meskipun terluka ia tetap piawai mengayunkan pedang kesayangannya itu, “satu…dua..tiga..empat, Down. Lima…enam …,down, empat belas.., clear. Lima beee….” Sentiros terdiam sejenak melihat sosok kelima belas yang akan ia serang, ia seperti sedang mengingat-ingat sosok yang ia lihat. “oohhh…tentu saja kau..Corte ‘the Phantom of Opera’ hahhahhaha..tak kusangka kau terlibat dalam peperangan ini…apa pangkatmu dalam peperangan ini? Prajurit rendahan kah? Atau sebagai badut penghibur para prajurit? “ . “Kau masih sangat membenciku rupanya Sentiros? Hahha tidak bijak rasanya jika harus saling membenci ditepi kematianmu sendiri, namun baiklah memang dari dulu kita tidak pernah akur jadi kita buktikan saja di pertarungan kali ini, dan untuk kali ini aku akan pastikan kau mati ditanganku” katanya sambil mulai mengenakan sebuah topeng .
Corte’the phantom of opera’ ialah mantan murid Sentiros yang pernah mencoba membunuh Sentiros demi jabatan pimpinan Feylong, kemudian dia pergi meninggalkan Detrous sebagai prajurit pelarian dan bergabung dengan Militer Zentar. Ia dicap sebagai prajurit penghianat. Pertarungan sengit terjadi diantara mereka berdua, belasan jurus dan teknik saling berbalas diantara mereka berdua, pertarungan Guru dan murid. Bangunan disekitar pertarungan mereka hancur satu persatu imbas dari jurus-jurus yang mereka berdua gunakan. “Sudah kubilang spainlothmu tak berarti apa apa terhadapku..aku telah mempelajari berbagai jurusmu” . “Sepertinya memang begitu adanya, namun masih terlalu cepat bagimu untuk membunuhku saat ini !” balas Sentiros.
“Landga kita telah terlambat, kita harus lebih cepat..pos penjaga telah ditinggalkan sejak 3 jam yang lalu” Kata Rekia. “Ya…kita harus cepat, semoga 200 prajurit yang kita bawa dapat membantu mereka disana.,” . Cepat saja mereka mencapai gerbang Selatan Debarn, disana telah sepi. Tidak ada satu pun prajurit disana..Namun saat mereka lebih masuk kedalam suara ledakan dan dentingan logam yang beradu pun mulai terdengar jelas. “Apakah lebih baik kita berpencar Landga? “. “Baiklah kau pergi menuju Mercusuar, aku pergi menuju gerbang Barat, bawa serta 100 prajurit bersamamu” . Lalu mereka berpencar  disana.
“Corte..kau telah mencapai titik batas kemampuanmu..hahahhaha” kata Sentiros. “Kau kira dirimu tidak pada batas yang sama denganku? Ha? Ciihh….”, Balasnya.  “Sama? Aku geli mendengarnya.hahhahaaa…ugh ugh ugh “. Celoteh Sentiros disusul darah yang mengalir dimulut dan hidungnya “ . “Bahkan jika kubiarkan saja mungkin kau akan mati dengan sendirinya….hahhaha sungguh menyedihkan…namun mengingat kau adalah mantan guruku, aku akan meringankan sedikit rasa sakitmu dengan membunuhmu, dengan begitu pula pedang Ziegler menjadi miliku..hahhahhaha” ungkap Corte. “Rupanya kau masih terobsesi dengan pedang Ziegler, kau sangat menginginkanya??........baiklah…. ambilah !” . Sentiros menatap pedang itu, lalu melemparkannya kearah Corte seolah-olah akan memberikannya dengan cuma-cuma.  Melihat pedang itu melayang kearahnya Corte terlihat ragu untuk menyongsongnya, namun karena obsesinya terhadap pedang itu ia menjatuhkan pedangnya dan menangkap Ziegler dengan tangan kanannya. “WARP” , terdengar suara itu keluar dari mulut Sentiros, kemudian ia ‘menghilang’,namun bukan menghilang ia hanya berpindah tempat tepat didepan Corte, lalu dengan cepat ia memegang Corte dengan kuat, meletakan tangan kanannya didada Corte, sambil mengucap mantra, terdengar kecil kata keluar dari mulutnya. “Elemen Api, IMPACT”.
Kemudian ledakan dahsyat terjadi disana, tepat didada Corte, mereka berdua pun terpental saling menjauh. Adapun ‘WARP’ adalah jurus tingkat tinggi pengendalian pedang dimana penggunanya dapat dengan cepat menuju pedangnya selama pedang itu masih ada dalam jarak penglihatannya.
Ledakan yang terjadi telah memporak-porandakan tempat itu. Terlihat pedang Ziegler terpelanting dan tertancap dijalanan kota Debarn. Terlihat pula Sentiros yang menghantam dinding bangunan memegangi tangan kanannya yang patah akibat jurus tingkat tinggi tersebut. Corte ‘the phantom of opera’ hanya terkapar dengan lubang besar menganga didadanya diantara puing puing bangunan yang hancur, dan semua kejadian itu disaksikan oleh Rekia. Ia terdiam sejenak dan tercengang melihat jurus dan teknik tingkat tinggi yang diperagakan oleh Sentiros tersebut. Kemudian ia lari dan menolong Sentiros yang telah terluka parah.Ia melamun beberapa saat, hingga ketika kilauan cahaya matahari yang terpantulkan oleh kilapnya Ziegler menyadarkan Rekia dari lamunannya.
“Saya Rekia wakil komandan batalyon ke-3, siap memberikan bantuan, mulai saat ini kami berada dibawah perintah tuan”, ucap Rekia. “Bantu aku berdiri nak ! dan bawa aku ke Mercusuar itu, aku telah berjanji kepada komandan yang lain untuk bertemu disana!” kata Sentiros. Kemudian ia perlahan mengambil Ziegler yang tertancap dijalan dan berjalan menuju mercusuar melewati jasad Corte sang hantu dalam opera. Rekia melihat jasad tersebut sambil berjalan dan menggumam dalam hatinya. Ketenangan pun terjadi beberapa saat, hingga akhirnya mereka berlalu.

Dan_16 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar