Jumat, 19 Oktober 2012

Part 6: Kalah Total

“Komandan Abel gerbang Barat telah kami kuasai, namun pasukan hanya meninggalkan setengahnya saja. Kami menunggu perintah !” kata seorang prajurit. “Kalian jaga barikade gerbang, aku akan pergi ke mercusuar, dan sementara aku pergi kuberikan wewenangku kepada wakilku “.  Abel merasakan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. “Aku harap Vega dapat mengatasinya, menjadi sangat penting penguasaan atas pelabuhan Debarn, namun yang menjadi perhatianku saat ini adalah Lisa, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi dimercusuar itu” , ungkap Abel dalam hati.

            “Komandan Jumlah kita kalah mutlak, keputusan terbaik adalah menarik pasukan ke barikade Barat, terlebih pemimpin pasukan Zentar itu sangat tangguh dan wakil anda pun telah dibunuh olehnya, kami menunggu perintah. “ kata seorang prajurit kepada Vega, dengan nafas terengah-engah. “aahhhhhh….baiklah tarik pasukan ke barikade Barat “, Jawab Vega dengan terpaksa. Batalyon kesatu pun mundur ke sisi Barat kota Debarn, dengan menyisakan sepertiganya saja. Sementara itu disektor Mercusuar komandan batalyon ke 4 Lisa telah mampu menguasai tempat itu. “Sungguh diluar dugaan, sangat mudah menguasai tempat ini, Aku menjadi sangat curiga, apakah ini hanya jebakan saja?”, kata Lisa kepada wakilnya.
            Sesekali Lisa memandang kearah pintu masuk mercusuar itu, dengan tatapan gelisah ia perlahan mulai menghampiri pintu tersebut,. Ketika semakin mendekati pintu itu tiba tiba langkahnya terhenti oleh sebuah derap langkah dari ratusan prajurit yang datang. “Ohh..ternyata kau Rekia..apa yang terjadi? Kenapa Tuan Sentiros terluka separah ini??” , kata Lisa. “Panjang ceritanya..sekarang apa yang akan kita lakukan Tuan Sentiros” jawab Rekia. “Kita Tunggu Vega dan Abel terlebih dahulu sebelum kit..” jawab Sentiros setengah selesai yang dibarengi dengan decitan bunyi pintu mercusuar terbuka secara perlahan. Pintu itu belum terbuka secara penuh telah keluar dari sela-selanya seorang yang sudah tidak asing lagi didunia militer antar kerajaan, dan diikuti seorang dibelakangnya.
            “Morgan de Shen...Jenderal tinggi kerajaan Zentar, mantan Chev disana dan salah satu dari 7 buronan dengan bounty tertinggi, terakhir kepalanya dihargai senilai 750 juta Ris” Kata Rekia terkejut melihat orang semacam itu ada dihadapannya. Setelah Morgan de Shen diikuti dibelakangnya Douglas ‘tangan kanannya’ .
            Keadaan berubah menjadi hening, sampai ketika celoteh Morgan keluar dari mulutnya. “Kenapa semuanya pada diam? Apa kalian melihat hantu? Ayolah kita bersenang senang ! hahhahaha..sudah lama terakhir aku bermain main dengan para prajurit hebat seperti kalian, ada Sentiros, namamu sudah terkenal semenjak aku kecil dahulu, hahhaha ohh dan ada komandan Lisa..komandan paling cantik dimuka bumi..dan teristimewa ada mantan komandan yang terhormat Rekia, orang yang berhasil selamat dari kejaran Ultimer hahhahha aku sungguh merasa terhormat berada diantara kalian”.
            “Baiklah yang pertama aku ingin bermain dengan…kau Lisa..atau mungkin kalian semua ingin langsung bermain bersama? Baiklah aku persilahkan hhahha “ , ungkap Morgan sembari berlari kearah Lisa. Dengan cepat ia hantam Lisa dengan tangan kosong yang mengakibatkan Lisa terpental menghantam dinding sebuah bangunan disana. Seolah mengikuti tuannya Douglas pun berlari ke arah Rekia dan Sentiros. “ahh sial…tuan Sentiros awas !!” jerit Rekia sambil menahan serangan Douglas dengan jur dikedua tangannya.  “Elemen air, frozen fist” Teriak Douglas sembari memukul Rekia yang kemudian langsung mundur kebelakang seolah-olah pertarungan telah selesai.
            “Pukulannya tidak terlalu terasa namun esnya membuat baju zirahku ini hancur…sial “, keluh Rekia. Ketika Rekia melihat bahwa Douglas telah mundur dan menghentikan serangan, pandangan Rekia pun teralihkan oleh lengan kiri Morgan yang tertancap sebuah panah khas Lisa, namun pada tangan kirinya pula kepala Lisa digenggam olehnya, dan ditangan kanannya mengeluarkan sebuah gumpalan energy  berwarna hitam pekat. “ini sangat gawat…Elemen api, fire ball ” Respon Rekia sigap. Dengan cepat bola api itu menghampiri Morgan. Morgan pun melempar Lisa dan menghindar dari bola api tersebut, belum genap ia menghindar dari belakang tubuhnya telah disambut oleh kedua pedang tajam komandan Abel. Serangan dari Abel tersebut hanya mampu memberikan luka goresan yang tidak cukup berarti bagi Morgan. “haaa…bocah ingusan…berani sekali kau menggores punggungku?! Ha!...” Geram Morgan yang tanpa pikir panjang di tangan kanannya yang semula mengeluarkan gumpalan energy hitam untuk menghabisi Lisa kali ini ditujukan kepada Abel.
            Dengan reflex seadanya ia menepis serangan Morgan itu dengan kedua pedangnya. Seketika itu juga ia terpental jauh hingga menghantam pintu mercusuar, dan diluar dugaan kedua pedang Abel pun hancur menjadi beberapa bagian setelah menerima tinju tangan kosong dari Morgan. Sesaat Morgan mengalihkan perhatiaannya dari Abel , ia kembali berjalan menghampiri Lisa entah apa yang akan dia lakukan kali ini. “ Bolehkah aku membunuhnya Rekia sebagai ganti dari nyawamu yang lolos pada malam terakhir kau menjabat sebagai komandan saat itu? ” Ledek Morgan yang memicu kemarahan Rekia. “Lepaskan dia !! Dan bertarunglah denganku…sebagai ganti saat malam itu “ ,Tantang Rekia. “ahh kau menantangku?? Hahhahaha..lawanlah dahulu Douglas..aku akan memperhatikanmu sembari aku membunuh wanita ini ! hahahhahha” balas Morgan dilanjutkan mengucap mantra.
            Sontak Rekia berlari kearah Lisa, namun ditengahnya ia berlari Douglas menghalanginya. “Lawanmu adalah aku !” , Kata Douglas tersenyum sinis. “Elemen api, Prominensa”, teriak Morgan. “Elemen Air, Ice Age” Disusul teriakan Sentiros menyela jurus Morgan yang membuat seluruh tempat itu berubah menjadi padang es dan membuat semua orang disana beku. Lalu tiba-tiba dari atas mercusuar seseorang melompat kebawah sembari mengucap mantra yang sudah tak asing lagi ditelinga Sentiros. “sabia de suflete” Kata itu terdengar bersamaan dengan pedang yang melayang dan kemudian menembus perut Sentiros.  Saat itu juga seluruh es mencair dan semua orang yang tadinya beku menjadi normal kembali. ”ah orang tua sialan...Elemen api..Prominensa” , ungkap Morgan kesal. Tempat yang sebelumnya dingin karena es tiba-tiba berubah menjadi panas karena satu jurus. Semuanya yang ada dalam jalur api itu hangus terbakar. Tidak bisa dibayangkan betapa hancurnya pusat kota Debarn saat itu, hanya menyisakan mercusuar yang masih berdiri tegak.
            ”Kau sedikit terlambat Fogia” ,tutur Morgan. ”yaa.. maaf seperti biasa aku terlambat..namun kedatanganku disaat yang tepat bukan? Hahhha” , ungkap orang yang bernama Fogia itu. ”Dari mana kau dapatkan pedang Renzo itu? Ugh..ugh..” Kata Sentiros yang telah setengah mati. ”Ohhh Sentiros kau belum mati juga rupanya? Mau aku bantu kurangi rasa sakitnya?oohh pedang ini...kebetulan aku sempat menggali makam...” belum selesai Fogia berbicara. ”Shadow Fist” , Rekia pergi meninggalkan Douglas dengan sebuah jur menancap dilehernya, begitu cepatnya gerakan Rekia hingga tak disadari oleh Fogia. Pukulan tangan kiri Rekia tersebut mengakibatkan Fogia terlempar ke samping Morgan. ”Rekia..kemarilah cepat” kata Sentiros terengah-engah. ”apa yang dapat saya lakukan untuk tuan?”,jawab Rekia. Tak lama mereka berbincang lalu Sentiros menitipkan Ziegler untuk seseorang, setelah itu Sentiros pun mati dihadapan Rekia.
            ”Sungguh mengharukan, sampai-sampai membuat aku meneteskan air mata, Haruskah aku adakan upacara pemakaman untuknya? Hahhahha” Ungkap Morgan. ” Tutup mulutmu...ternyata selain dikenal sebagai salah satu orang dengan kepala termahal kau juga dikenal sebagai orang yang bermulut besar.Memalukan ” , Balas Rekia. Mereka pun langsung saling melancarkan serangan, tempat yang semula hancur menjadi semakin hancur akibat pertarungan tersebut. ”Ayolah Morgan sebaiknya kita pergi saja dari tempat ini, karena kita telah mendapatkan semua yang kita inginkan,” kata Fogia. ”Termasuk Shira?” jawab Morgan. ”Tentu saja, sudah tidak ada alasan bagi kita untuk terus berada ditempat ini” kata Fogia. Mendengar percakapan tersebut Rekia terkejut. ”Apa maksud dari perkataanmu?” , kata Rekia sembari kembali menyerang Fogia dengan jurus yang sama. Fogia pun berhasil menghindar, dan dari belakang, pukulan ’Dark Energy’ dari Morgan mampu dihindari oleh Rekia, akibatnya dinding Mercusuar Debarnlah yang terkena imbasnya. Ledakan besar terjadi ditempat itu, hal itu membuat bangunan sebesar 20x20 meter tersebut condong kekiri, dan perlahan-lahan jatuh ketanah kota Debarn. 
            ”Apa yang terjadi mereka mundur ke pelabuhan?” , kata Vega kepada Landga. ”Apapun alasannya itu merupakan sebuah keuntungan bagi kita, dan lebih baik kita segera ke pusat kota, melihat Menara setinggi itu hancur membuat aku sangat khawatir” Jawab Landga. Beberapa saat setelah keruntuhan menara Debarn tibalah Vega dan Landga disana. ”Bencana apa yang baru saja terjadi ditempat ini?” ,ungkap Vega begitu saja. ”Cari orang yang masih hidup !” kata Landga.
            Disamping reruntuhan, Landga mendapati Rekia dan Abel sedang duduk lemas dengan dua helai kain menutupi sesuatu disamping mereka. ”Kita telah kalah total....” , Kata Rekia dengan pandangan kosong seakan-akan siang yang cerah saat itu tidak mampu menyembunyikan tangisan kota Debarn.

Dan_19 Oktober 2012

2 komentar: